Belum lama, seorang teman tiba-tiba chat ke gue meminta untuk design undangan. Gue lumayan dekat dgn dia dan udah lama ga berkomunikasi, otomatis gue cukup khatam dalam masalah cintanya yg berliku-liku. Ketika gue tanya siapakah pria yg beruntung meminang dia, gue lumayan kaget. Karena dia dipinang oleh mantannya yg gue cukup tau kisahnya seperti apa. Apalagi temen gue termasuk cewek "penjaring" yg notabenenya banyak menjaring pria-pria tak berdosa diluar sana.
Jodoh tak kemana. Istilah kuno yang sangat melekat di masyarakat Indonesia. Kalimat itu bisa membuat optimis, tapi bisa juga bisa buat pesimis. Dari kasus yg menimpa teman gue tadi, bisa dibilang istilah "Jodoh tak kemana" terbukti. Tapi bagaimana pun juga pernikahan itu permulaan dari sebuah kehidupan. Asiiik dewasa banget omongan gue. Wajar di tukang cukur rambut tarif gue dewasa.
Memang jodoh itu bener-bener misteri. Banyak orang-orang dekat yg gue kenal, kisah tentang cintanya serumit perang di Syiria. Ada yg mujur, ada juga yg mulus. Lah sama aja yak?
Kasus sepupu gue yg kenal sama cewek dari waktu dia SMP, lalu pacaran, dan akhirnya menikah diumur 23/24-an. Itu ngebuktiin kalo pacaran lama bisa menikah.
Ada juga kasus sepupu gue yg pacaran udah lama sampai bertahun-tahun, tapi diusia matang berpacarannya malah mereka putus. Tapi kemudian dia berkenalan tanpa sengaja dgn seorang wanita, mereka lalu intens komunikasi dan dibulan ketiga mereka kenal, mereka berkomitmen untuk menikah. Ibarat kata, sepupu gue sedang training dgn pacarnya yg pacaran bertahun-tahun, ketika sudah belajar banyak, Tuhan akhirnya kasih orang yg benar-benar pantas untuk sepupu gue.
Lamanya berpacaran juga ga menjamin kita jodoh sm dia. Sekali lagi, jodoh itu benar-benar misteri.
Kalo diliat dari kasus sepupu gue yg kedua, yg baru kenal sebentar tapi langsung memutuskan menikah memang ibarat kata membeli karung dalam kucing. Tebalik? Sengaja!
Gimana enggak, 3 bulan itu waktu yang bener-bener singkat untuk tau seseorang sebenernya. Tapi kenapa dia bisa? Cuma 3 bulan? Padahal sebelumnya dia pacaran lama banget sampe bertahun-tahun? Tapi kenapa dia menikah dengan orang yg baru dia kenal 3 bulan?
Kalo menurut gue sih, itu bukti kedewasaan dari kedua belah pihak bahwa mereka menikah karena memang sudah belajar dari peristiwa yg sudah-sudah. Gimana caranya kita menyesuaikan diri dgn pasangan kita dan menurunkan ego kita dalam membina rumah tangga. ASOOY~
Tetapi ada juga salah satu sahabat gue yg menikah dgn pasangannya yg baru dikenal 3 atau 4 bulan tetapi pada akhirnya pernikahan mereka kandas begitu saja karena mereka akhirnya mengetahui sifat-sifat asli pasangannya.
Kasus sama menimpa salah satu temen gue juga. Dia pacaran lama dgn pacar lamanya tetapi putus diusia berpacarannya yg sudah lama, kemudian dia berkenalan dgn orang baru yg mengajaknya menikah dan memberikan keseriusan berupa aksi kpd temen gue agar dia yakin utk dinikahkan. Akhirnya pinangan itu diterima dgn baik. Siapa yg ragu ketika sedang berada dititik galau tiba-tiba ada seseorang yg serius dan memberikan bukti untuk serius meminang dia? Pasti wanita langsung meleleh. Sayangnya, akhirnya sifat ataupun kebiasaan masing-masing baru terlihat, dan diumur jagung pernikahan mereka pun kandas juga. Hiks...
Disayangkan, tapi itu jg pelajaran.
Keterbukaan dan saling mengerti memang modal dasar utk membangun bahtera rumah tangga dgn seseorang yg baru kita kenal sebentar. Dari kasus terakhir bisa dilihat sepertinya keterbukaan terhadap pasangan ketika masa pdkt kurang. Akhirnya kurangnya sikap saling pengertian yg menyebabkan sebuah pernikahan kandas karena tidak cocok. Tapi kembali lagi, yg merasakan itu bukan kita, karna rasa tiap orang berbeda-beda, bisa jadi kita cuma bisa berkomentar layaknya kebanyakan orang Indonesia pada umumnya.
Allah menciptakan Tuhan berpasang-pasangan. Gue sangat yakin itu. Jadi yg jomblonya menahun lamanya, ibarat kata kuliah udah mau kena pemutihan, tenang aja, karena janji Tuhan ga pernah ingkar. Tapi menurut gue Tuhan seperti "menyediakan" jodoh. Tuhan memberi kesempatan utk kita berkenalan dgn "Calon Jodoh pertama" kita, lalu ketika tidak mulus kita diberikan kesempatan lagi untuk berkenalan dgn "Calon Jodoh kedua", lalu "Calon Jodoh ketiga" dan seterusnya. Tapi Tuhan dgn hak perogatifnya bisa bikin kita dgn "Calon Jodoh" yang mana aja. Yang penting kalo emang niatnya "bukan utk main-main" lagi dan seiring jg iktiar dan doa, pasti Tuhan memudahkannya. Ga mungkin enggak. Yang terpenting lebih baik kita berbenah dan memantaskan diri kita.
Walaupun pacaran sebenarnya ga ada untuk para muslim, tapi kan ada taaruf. Maka dari itu yuk siapa yg mau taaruf sm aku?
Yang nyolong selendang bidadari kali ah! Joko Ta'aruf.
Ehe.
Blog usang orang gemuk!
jangan terlalu serius di dunia yg sangat becanda ini.
Selasa, 21 November 2017
Selasa, 18 Oktober 2016
Relationship Goals???
Belakangan ini, banyak banget para ABG yang sering ngomong tentang kisah asmaranya yg baru seumur jagung. Yang rata-rata masih pada jadian seminggu aja udah pada saling ngucapin di beberapa socmed dgn nulis "Met 7 harian ya sayaang". Entahlah, mereka mau bikin ngerayainnya dengan party atau dengan tahlilan. Yaa menurut gue ini suatu hal yg berlebihan sih. Baru pacaran udah mengumbar gaya pacarannya yg melebihi orang yg sudah sah menikah. Dan dengan percaya dirinya mereka mengklaim itu adalah suatu "Relationship Goals".
Relationship Goals? What is that? (Asoooy kek boy williams). Emang agak bias relationship goals itu. Banyak definisi dari relationship goals itu sendiri, setiap lu tanya orang satu-satu pun beda-beda jawabannya. Di google pun banyak definisinya. Ya intinya sih relationship goals itu tujuan dari pacaran itu apa.
Dan yg gue liat akhir-akhir ini di berbagai media sosial, relationship goals "mereka" gajauh-jauh dari liburan bareng pacar, gila-gilaan di tempat umum, dan semacamnya. Intinya sih relationship yg mereka buat bisa disimpulkan bisa buat "iri" orang lain. Ya bisa dibilang biar kekinian laah. Malah sempat kemarin booming ada postingan photo cewek yg cium ketek pacarnya, atau pasangan cewek cowok yg di foto pertama pake baju normal dan di foto kedua mereka tukeran baju, yg cewek pake baju cowok, dan jg sebaliknya.
Gue sih ga kebayang aja tiba-tiba mereka yg udah posting kegilaannya bareng pacaranya, tiba-tiba putus.. Beeeh speechless..
Ada lagi sih Anya Geraldine. Nah ini sih anak muda rata-rata bilang kalo dia jadi panutan relationship goals. Gue awalnya jg ga peduli doi sokap, tapi lama kelamaan, berita tentang dia berseliweran diberbagai media social tentang berita dia dilaporin ke kepolisian karena bisa bawa pengaruh buruk ke anak-anak gegara gaya pacarannya. Jadi dia seorang model yg nge-vlog juga, dan salah satu vlog nya dia liburan berdua doang sama pacarnya di Bali, dan menampilkan kemesraan mereka yg tentunya ga "wajar" bagi masyarakat kita. Ya kaya Anya make bikini doang trus berduaan di tub berdua sm pacarnya. Ya pokoknya bisa dibilang kek honeymoon yg tak sesuai klo diliat dr umur sama status mereka lah. Namun, kegiatan liburan seperti itulah yg menjadi patokan Relationship Goals kebanyakan muda mudi kita.
Walaupun sah sah aja dan ga ada yg larang, tetapi agak dini sebenarnya kalo masih pacaran sudah bilang tentang relationship goals. Kalo relationship goals lu itu nikah, nikah itu adalah permulaan, karena menurut gue nikah pun itu msh blom berjodoh. Toh masih bisa cerai kan? Apapun bentuk perpisahannya. Mau lu seyakin-yakinnya jg bahwa istri/suami lu itu jodoh lu, ya cuma lu yg bisa mempertanggung jawabkannya berdua, dan lu buktiin klo pilihan itu pilihan tepat dan bersama sampe ajal menjemput, itu baru bisa disebut takdir, bahkan bisa juga disebut relationship goals.
Untuk para adik-adiku yg masih pacaran dan masih have fun aja demi sebuah kata "relationship goals", ingatlah lapangan pekerjaan semakin sulit, tagihan listrik semakin mahal dan biaya sekolah kian meningkat. Dan untuk para teman-teman seumuranku bahkan lebih yg belum nikah juga, nabung lah, mau sampai kapan sendirian kek gini ga ada pendampingnya? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA gue jg sama sih. hiks
Relationship Goals? What is that? (Asoooy kek boy williams). Emang agak bias relationship goals itu. Banyak definisi dari relationship goals itu sendiri, setiap lu tanya orang satu-satu pun beda-beda jawabannya. Di google pun banyak definisinya. Ya intinya sih relationship goals itu tujuan dari pacaran itu apa.
Dan yg gue liat akhir-akhir ini di berbagai media sosial, relationship goals "mereka" gajauh-jauh dari liburan bareng pacar, gila-gilaan di tempat umum, dan semacamnya. Intinya sih relationship yg mereka buat bisa disimpulkan bisa buat "iri" orang lain. Ya bisa dibilang biar kekinian laah. Malah sempat kemarin booming ada postingan photo cewek yg cium ketek pacarnya, atau pasangan cewek cowok yg di foto pertama pake baju normal dan di foto kedua mereka tukeran baju, yg cewek pake baju cowok, dan jg sebaliknya.
Gue sih ga kebayang aja tiba-tiba mereka yg udah posting kegilaannya bareng pacaranya, tiba-tiba putus.. Beeeh speechless..
Ada lagi sih Anya Geraldine. Nah ini sih anak muda rata-rata bilang kalo dia jadi panutan relationship goals. Gue awalnya jg ga peduli doi sokap, tapi lama kelamaan, berita tentang dia berseliweran diberbagai media social tentang berita dia dilaporin ke kepolisian karena bisa bawa pengaruh buruk ke anak-anak gegara gaya pacarannya. Jadi dia seorang model yg nge-vlog juga, dan salah satu vlog nya dia liburan berdua doang sama pacarnya di Bali, dan menampilkan kemesraan mereka yg tentunya ga "wajar" bagi masyarakat kita. Ya kaya Anya make bikini doang trus berduaan di tub berdua sm pacarnya. Ya pokoknya bisa dibilang kek honeymoon yg tak sesuai klo diliat dr umur sama status mereka lah. Namun, kegiatan liburan seperti itulah yg menjadi patokan Relationship Goals kebanyakan muda mudi kita.
Walaupun sah sah aja dan ga ada yg larang, tetapi agak dini sebenarnya kalo masih pacaran sudah bilang tentang relationship goals. Kalo relationship goals lu itu nikah, nikah itu adalah permulaan, karena menurut gue nikah pun itu msh blom berjodoh. Toh masih bisa cerai kan? Apapun bentuk perpisahannya. Mau lu seyakin-yakinnya jg bahwa istri/suami lu itu jodoh lu, ya cuma lu yg bisa mempertanggung jawabkannya berdua, dan lu buktiin klo pilihan itu pilihan tepat dan bersama sampe ajal menjemput, itu baru bisa disebut takdir, bahkan bisa juga disebut relationship goals.
Untuk para adik-adiku yg masih pacaran dan masih have fun aja demi sebuah kata "relationship goals", ingatlah lapangan pekerjaan semakin sulit, tagihan listrik semakin mahal dan biaya sekolah kian meningkat. Dan untuk para teman-teman seumuranku bahkan lebih yg belum nikah juga, nabung lah, mau sampai kapan sendirian kek gini ga ada pendampingnya? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA gue jg sama sih. hiks
Jumat, 09 September 2016
Born To Die(t) !!! (Part II) : Orang Gemuk dan Idhul Adha
Suatu waktu, gue pernah ngopi bareng sama temen gue yg badannya tipis banget kek dompet pertengahan karyawan kaum sudra yg hidup layaknya orang borjuis. Saat itu dia pesan banyaaak makanan, sampai gue sendiri yg notabenenya orang gemuk heran dengan pesanan yg dia pesan.
Ada kentang goreng, omlet, onion ring dan beberapa main course lainnya seperti Nasi Goreng Kambing porsi double yg bisa dibilang utk porsi dia itu bisa tetap hidup walaupun ga makan lagi selama 3 bulan.
Seraya gue bertanya, "Coy, kaga kebanyakan lu??"
Dia cuma menjawab, "Liat aja nanti."
Satu persatu makanan kita lahap, dan dia terus kunyah... kunyaaah.. kunyaaahhh... kunyaaahh.. dan main course nya pun habis. Gue itu ngerasa kalo gue itu makan cepet, secepet kita hapus chat sama selingkuhan ketika pacar kita mau nge-cek hape (dan para peselingkuh yg membaca inipun nyengir), tapi ketika gue liat temen gue makan begitu cepatnya, rekor pun gue terkalahkan.
Gue heran dan bertanya lagi ke doi, "Lu makan emang kek begini, Coy?".
Dia malah bilang, bukan hanya makan, tapi dia malah sering ngemil. Dan yg bangsatnya, berat badan dia stuck di situ-situ aja.
Okey, Well Shit. Ketika ada orang yg makan banyak tanpa mengganggu berat badannya, mereka mengklaim itu mujikzat. Lantas, bagaimana dengan gue yg hirup udara aja bisa jadi daging?!!!
Kalo diliat, faktor genetik sangat berpengaruh disini. Diliat dari keluarganya temen gue aja, adeknya, kakaknya, bonyoknya, semuanya tinggi kurus. Beda sama gue, sekeluarga gemuk semua, tempat karaoke yg VIP aja terasa sempit kalo keluarga inti gue doang yg masuk. Bahkan para pemandu yg liat kita segerombolan dateng ke tempat karaoke, mungkin pada langsung ajuin resign.
Ya emang begitu deeh keluarga gue, bahkan obesitas itu sendiri mencakup sampai keluarga kakek gue. Kalo di kumpulin semua keluarga dari kakek gue, mungkin udah menyerupai besarnya GBK.
Punya badan seperti ini membantu gue berkenalan dengan orang-orang yg udah sukses diet. Dari yg cuma pegawai biasa sampai yg Trainer di tempat gym. Suatu waktu, ketika gue bersemangat untuk jogging di salah satu perumahan di bilangan Jakarta Barat, tiba-tiba ada orang yg samperin gue dengan badan yg terbilang bidang, trus mendekati gue sambil bilang "Gausah lari mas, jalan santai aja". Dari situ kita bertukar cerita kalo dia jg pernah mencapai berat badan sampai 120kg, dan sangat amat butuh perjuangan untuk mencapai badannya yg sekarang ia dapat. Sayang, gue lupa siapa namanya dan ga sempet tukeran hape. Soalnya dia lumayan sih cyiin, cucoook gitcuuu.. EM~
Tapi memang Tuhan Maha Baik. Suatu waktu gue dapat projek yg di garap di Kalimantan, gue bertemu salah seorang trainer gym bernama Bang Artur. Pertama kali ketemu dia ketika rapat di daerah Kuningan. Dia baik banget. Awal ketemu aja langsung ngajak gue ke makanan self service yg gue ga perlu sebutkan restorannya bernama Hanamasa.
"Jun, ikut gue yuk ke Hanamasa.", ajak bang Artur,
"Widiiih makan makan nih kita!", sontak gue kegirangan,
"Kaga. Lu mau gue jual!"
Gue shock. Layaknya orang yg shock ketika melihat Ichcha dikabarkan mati di serial Uttaran. Tapi gue tau dia becanda doang, karna untuk melawan dia gue ga berani, ngeliat badan dia aja udah kek ngeliat orang dengan tumpukan roti bantal di badan. Sedangkan, badan gue udah banyak lipetan kek logonya Michelin.
Bang Artur menjelaskan perjuangan dia menuju badan yg sempurna, kurang lebih sama seperti seorang stranger yg gue temui ketika gue jogging. Dia pernah mencapai berat badan 135kg. Selama 2 tahun dia berjuang mati-matian utk bisa sampai berat badannya yg sekarang.
Sebenernya masih banyak lagi orang-orang yg sukses dalam dietnya yg kasih saran dan cara-cara mereka diet. Kurang lebih tips diet mereka sama semua. Dan semua teori itu sudah gue hatam-kan.
Cuma memang satu yg belum bisa gue kuasai, yaitu NIAT. Iya, niat gue dan "omongan" itu seperti minyak wangi eceran yg di jual di toko-toko minyak wangi di berbagai ITC di Jakarta, "wangi sih, cuman palsu".
Idul Adha merupakan salah satu hari sakral bagi yg merayakannya. Pesta BBQ menjadi kegiatan rutin setahun sekali. Dan di hari itu lah kesabaran orang-orang gemuk sangat lah teruji. Sabarnya ngelebihin nungguin lampu merah di Atrium Senen. Kata-kata seperti "Lu udah di kasih nomor?" atau ga "Makan yg enak ye, dikit lg di potong" itu selalu terniang-niang di telinga, Terkadang di hari itu banyak dari "kami" yg mengurung diri di rumah. Dan efeknya bukan hari itu aja. Di hari-hari berikutnya yg masih berdekatan dengan Idul Adha kalo kita ketemu temen-temen atau kerabat yg "brengsek", kita seakan-akan tak berkutik, dan pasrah saja menerima takdir. "Lah, kemaren lu lolos?", kata-kata itulah yg melebihi sakitnya hati dibandingin gagal nikah.
Mari lah saudaraku se-pergemukan. Kita sisihkan baju lengan kita untuk melawan para kaum-kaum bully ekstrimis yg muncul ketika hari raya Idul Adha. Kita berpelukan bersama-sama. Eh, jangan deh. Kalo kita rame-rame pelukan, nanti bisa nyaingin Borobudur.
Ada kentang goreng, omlet, onion ring dan beberapa main course lainnya seperti Nasi Goreng Kambing porsi double yg bisa dibilang utk porsi dia itu bisa tetap hidup walaupun ga makan lagi selama 3 bulan.
Seraya gue bertanya, "Coy, kaga kebanyakan lu??"
Dia cuma menjawab, "Liat aja nanti."
Satu persatu makanan kita lahap, dan dia terus kunyah... kunyaaah.. kunyaaahhh... kunyaaahh.. dan main course nya pun habis. Gue itu ngerasa kalo gue itu makan cepet, secepet kita hapus chat sama selingkuhan ketika pacar kita mau nge-cek hape (dan para peselingkuh yg membaca inipun nyengir), tapi ketika gue liat temen gue makan begitu cepatnya, rekor pun gue terkalahkan.
Gue heran dan bertanya lagi ke doi, "Lu makan emang kek begini, Coy?".
Dia malah bilang, bukan hanya makan, tapi dia malah sering ngemil. Dan yg bangsatnya, berat badan dia stuck di situ-situ aja.
Okey, Well Shit. Ketika ada orang yg makan banyak tanpa mengganggu berat badannya, mereka mengklaim itu mujikzat. Lantas, bagaimana dengan gue yg hirup udara aja bisa jadi daging?!!!
Kalo diliat, faktor genetik sangat berpengaruh disini. Diliat dari keluarganya temen gue aja, adeknya, kakaknya, bonyoknya, semuanya tinggi kurus. Beda sama gue, sekeluarga gemuk semua, tempat karaoke yg VIP aja terasa sempit kalo keluarga inti gue doang yg masuk. Bahkan para pemandu yg liat kita segerombolan dateng ke tempat karaoke, mungkin pada langsung ajuin resign.
Ya emang begitu deeh keluarga gue, bahkan obesitas itu sendiri mencakup sampai keluarga kakek gue. Kalo di kumpulin semua keluarga dari kakek gue, mungkin udah menyerupai besarnya GBK.
Punya badan seperti ini membantu gue berkenalan dengan orang-orang yg udah sukses diet. Dari yg cuma pegawai biasa sampai yg Trainer di tempat gym. Suatu waktu, ketika gue bersemangat untuk jogging di salah satu perumahan di bilangan Jakarta Barat, tiba-tiba ada orang yg samperin gue dengan badan yg terbilang bidang, trus mendekati gue sambil bilang "Gausah lari mas, jalan santai aja". Dari situ kita bertukar cerita kalo dia jg pernah mencapai berat badan sampai 120kg, dan sangat amat butuh perjuangan untuk mencapai badannya yg sekarang ia dapat. Sayang, gue lupa siapa namanya dan ga sempet tukeran hape. Soalnya dia lumayan sih cyiin, cucoook gitcuuu.. EM~
Tapi memang Tuhan Maha Baik. Suatu waktu gue dapat projek yg di garap di Kalimantan, gue bertemu salah seorang trainer gym bernama Bang Artur. Pertama kali ketemu dia ketika rapat di daerah Kuningan. Dia baik banget. Awal ketemu aja langsung ngajak gue ke makanan self service yg gue ga perlu sebutkan restorannya bernama Hanamasa.
"Jun, ikut gue yuk ke Hanamasa.", ajak bang Artur,
"Widiiih makan makan nih kita!", sontak gue kegirangan,
"Kaga. Lu mau gue jual!"
Gue shock. Layaknya orang yg shock ketika melihat Ichcha dikabarkan mati di serial Uttaran. Tapi gue tau dia becanda doang, karna untuk melawan dia gue ga berani, ngeliat badan dia aja udah kek ngeliat orang dengan tumpukan roti bantal di badan. Sedangkan, badan gue udah banyak lipetan kek logonya Michelin.
Bang Artur menjelaskan perjuangan dia menuju badan yg sempurna, kurang lebih sama seperti seorang stranger yg gue temui ketika gue jogging. Dia pernah mencapai berat badan 135kg. Selama 2 tahun dia berjuang mati-matian utk bisa sampai berat badannya yg sekarang.
Sebenernya masih banyak lagi orang-orang yg sukses dalam dietnya yg kasih saran dan cara-cara mereka diet. Kurang lebih tips diet mereka sama semua. Dan semua teori itu sudah gue hatam-kan.
Cuma memang satu yg belum bisa gue kuasai, yaitu NIAT. Iya, niat gue dan "omongan" itu seperti minyak wangi eceran yg di jual di toko-toko minyak wangi di berbagai ITC di Jakarta, "wangi sih, cuman palsu".
Mari lah saudaraku se-pergemukan. Kita sisihkan baju lengan kita untuk melawan para kaum-kaum bully ekstrimis yg muncul ketika hari raya Idul Adha. Kita berpelukan bersama-sama. Eh, jangan deh. Kalo kita rame-rame pelukan, nanti bisa nyaingin Borobudur.
Rabu, 06 Januari 2016
Cacar ooh Cacar..
Pergantian tahun 2016, kebanyakan orang melewatinya dengan suka cita, berkumpul dengan keluarga, BBQ-an bersama, liburan bersama dan semacamnya. Apalagi dibarengi sama libur panjang anak sekolah. Tapi gue? TIDAK!
Yak. pergantian tahun gue dialami dengan suatu penyakit yaitu cacar. Banyak yg nanya ke gue, "Ga ketuaan lu baru kena cacar sekarang?". Gue speechless mau ngomong apa, gue gatau kenapa baru sekarang gue kena cacar. Yang pastinya mengalami cacar di umur yang sudah bangkotan begini terasa begitu berat, sama beratnya seperti mendapat kabar keretakan rumah tangga antara Nasar dan Musdalifah. *yeileeh*
Kalo liat hasil googling sih, cacar itu datang dari virus Vericella Zostar, yang terjadi akibat bersentuhan langsung dengan penderita. Setelah gue inget-inget ternyata gue bersentuhan langsung sama penderita yaitu temen gue sendiri, saat itu temen gue cacarnya belum keluar dan udah ngeluh sakit ke gue. Gue sih pede aja karena seinget dulu gue pernah kena cacar kan, jadinya nyantai aja kayak di pantai. Eh, malemnya badan gue langsung panas, gue mikirnya karena gue dr kemarin begadang ngurus deadline, makanya gue cuma minum salah satu obat penurun panas yang gue ga akan sebutin kalo obat itu namanya bodrex. Eh? Kayaknya ada yg aneh?
Besok paginya gue terbangun seperti biasa, lalu ketika mandi gue baru sadar bahwa ada benjolan nanah tumbuh di sekitaran perut gue. Langsung gue tanya ke nyokap yg sedang menuang teh ke dalam cangkir gelas, seraya gue bertanya benjolan itu apa. Dan nyokap gue menjatuhkan teko yg berisi air teh lalu sambil memeluk erat gue dan berkata sambil terisak-isak "Itu cacaaar anakkuuu.. itu cacaaarrrr..!!!". Oke fix, itu lebay.
Nyokap bilang ke gue itu benjolan cacar. Dan seinget gue dulu gue kayaknya udah kena cacar. Tapi nyokap gue bilang kalo dulu gue itu bukan kena cacar, tapi kena campak. Disitulah gue baru menyesal membocengi temen gue yg menderita cacar kemaren, karena sebelumnya gue belom kena cacar, tapi gue pernah kena campak, makanya sering "dicampakkan". hiks
Kena cacar diumur yg sudah bangkotan ini emang agak spesial. Sudah hampir seminggu gue belom mandi. Ngeliat nyokap nyiram taneman, gue baper mau mandi. Ngeliat adek gue keluar dari kamar mandi handukan, gue baper pengen mandi. Ngeliat Raline Shah jadi model iklan shampoo, gue baper pengen kawin. Wah pokoknya tersiksa banget deh. Biasanya gue yg males mandi akhirnya merindukan rasanya mandi itu kek gimana.
Dan kegiatan mandi pun diganti dengan bedakan. Lu bisa bayangin, gue terisolasi dari dunia luar, gue di dalem kamar aja, udah kek caleg setreeess. Kerjaan gue cuma megangin kaca sama bedakan, udah kek jablay nungguin pelanggannya. Dan bedaknya pun itu ga rata. Jadi intinya lu bayangin gue ini bagai seorang caleg stres yg terisolasi di rumah yang kerjaannya cuma bedakan dan badan gue sekujur tubuh dibaluri bedak udah kek adonan mekdi. Bayangin coba! BAYANGIN!
Gue bukan ga bersyukur sih kena penyakit, tapi menurut gue cacar yg gue alami ini sangat memorable. Seharusnya gue masih bisa jenguk almarhum sepupu gue sebelum operasinya dilaksanankan esoknya, tapi malemnya gue terserang panas tinggi tanda cacar akan segera keluar, dan gue melewatkan momen menemani sepupu kesayangan gue. Tapi Allah emang punya rencana lain, Maafin gue, Dan.
Yang pastinya sampai gue nulis ini, cacar gue belom sembuh juga. Perkiraan seminggu lagi gue baru sembuh total. Yang dikhawatirkan adalah bekas cacar yang ada di muka ini bisa ilang apa enggak, masa muka gue polkadot gitu, klo di masukin IG bisa ditawar muka gue.. huft.
Yak. pergantian tahun gue dialami dengan suatu penyakit yaitu cacar. Banyak yg nanya ke gue, "Ga ketuaan lu baru kena cacar sekarang?". Gue speechless mau ngomong apa, gue gatau kenapa baru sekarang gue kena cacar. Yang pastinya mengalami cacar di umur yang sudah bangkotan begini terasa begitu berat, sama beratnya seperti mendapat kabar keretakan rumah tangga antara Nasar dan Musdalifah. *yeileeh*
Kalo liat hasil googling sih, cacar itu datang dari virus Vericella Zostar, yang terjadi akibat bersentuhan langsung dengan penderita. Setelah gue inget-inget ternyata gue bersentuhan langsung sama penderita yaitu temen gue sendiri, saat itu temen gue cacarnya belum keluar dan udah ngeluh sakit ke gue. Gue sih pede aja karena seinget dulu gue pernah kena cacar kan, jadinya nyantai aja kayak di pantai. Eh, malemnya badan gue langsung panas, gue mikirnya karena gue dr kemarin begadang ngurus deadline, makanya gue cuma minum salah satu obat penurun panas yang gue ga akan sebutin kalo obat itu namanya bodrex. Eh? Kayaknya ada yg aneh?
Besok paginya gue terbangun seperti biasa, lalu ketika mandi gue baru sadar bahwa ada benjolan nanah tumbuh di sekitaran perut gue. Langsung gue tanya ke nyokap yg sedang menuang teh ke dalam cangkir gelas, seraya gue bertanya benjolan itu apa. Dan nyokap gue menjatuhkan teko yg berisi air teh lalu sambil memeluk erat gue dan berkata sambil terisak-isak "Itu cacaaar anakkuuu.. itu cacaaarrrr..!!!". Oke fix, itu lebay.
Nyokap bilang ke gue itu benjolan cacar. Dan seinget gue dulu gue kayaknya udah kena cacar. Tapi nyokap gue bilang kalo dulu gue itu bukan kena cacar, tapi kena campak. Disitulah gue baru menyesal membocengi temen gue yg menderita cacar kemaren, karena sebelumnya gue belom kena cacar, tapi gue pernah kena campak, makanya sering "dicampakkan". hiks
Kena cacar diumur yg sudah bangkotan ini emang agak spesial. Sudah hampir seminggu gue belom mandi. Ngeliat nyokap nyiram taneman, gue baper mau mandi. Ngeliat adek gue keluar dari kamar mandi handukan, gue baper pengen mandi. Ngeliat Raline Shah jadi model iklan shampoo, gue baper pengen kawin. Wah pokoknya tersiksa banget deh. Biasanya gue yg males mandi akhirnya merindukan rasanya mandi itu kek gimana.
Dan kegiatan mandi pun diganti dengan bedakan. Lu bisa bayangin, gue terisolasi dari dunia luar, gue di dalem kamar aja, udah kek caleg setreeess. Kerjaan gue cuma megangin kaca sama bedakan, udah kek jablay nungguin pelanggannya. Dan bedaknya pun itu ga rata. Jadi intinya lu bayangin gue ini bagai seorang caleg stres yg terisolasi di rumah yang kerjaannya cuma bedakan dan badan gue sekujur tubuh dibaluri bedak udah kek adonan mekdi. Bayangin coba! BAYANGIN!
Gue bukan ga bersyukur sih kena penyakit, tapi menurut gue cacar yg gue alami ini sangat memorable. Seharusnya gue masih bisa jenguk almarhum sepupu gue sebelum operasinya dilaksanankan esoknya, tapi malemnya gue terserang panas tinggi tanda cacar akan segera keluar, dan gue melewatkan momen menemani sepupu kesayangan gue. Tapi Allah emang punya rencana lain, Maafin gue, Dan.
Yang pastinya sampai gue nulis ini, cacar gue belom sembuh juga. Perkiraan seminggu lagi gue baru sembuh total. Yang dikhawatirkan adalah bekas cacar yang ada di muka ini bisa ilang apa enggak, masa muka gue polkadot gitu, klo di masukin IG bisa ditawar muka gue.. huft.
Selasa, 08 Desember 2015
Born To Die(t) !!! (Part I)
Ketika badan udah kegedean...
Ketika lg ngaca di kaca spion cuma keliatan pipi doang..
Ketika lg ngaca di kaca spion cuma keliatan pipi doang..
Ketika kancing celana sudah pada putus tanpa alesan..
Yak. kesedihan gue memuncak. Entah lah, badan gue ini selalu menjadi persoalan utama yang menghiasi hari-hari gue. Gue pun udah benci dengan jarum timbangan yang hanya memutar-mutar ketika gue memijakan kaki dipunggungnya. Gue sih ga mau menuliskan angka berapa berat badan gue sekarang, gue cuma bisa menuliskan pada kata "Seratussepuluh." Besar? ga usah ditanya. karna berat badan sama gue udah ga bisa dipisahkan, kayak aku sama kamuuu... :')
Yak. kesedihan gue memuncak. Entah lah, badan gue ini selalu menjadi persoalan utama yang menghiasi hari-hari gue. Gue pun udah benci dengan jarum timbangan yang hanya memutar-mutar ketika gue memijakan kaki dipunggungnya. Gue sih ga mau menuliskan angka berapa berat badan gue sekarang, gue cuma bisa menuliskan pada kata "Seratussepuluh." Besar? ga usah ditanya. karna berat badan sama gue udah ga bisa dipisahkan, kayak aku sama kamuuu... :')
Sebenarnya gue ga terlalu masalah pada shape gue sekarang ini. Gue enjoy aja kok. Cuma lingkungan gue yang memperparah keadaan. Contoh simpelnya gini, apa penyebab seseorang mengalami kegemukan/obesitas? Pasti jawabannya sepakat makan yg berlebihan dan pola makan yg tidak teratur. Celakanya, gue hidup di lingkungan dan budaya yg doyan makan.
Di lingkungan pertemanan gue, gue pasti selalu punya temen yg hobinya kuliner, tapi makannya dikit, terus siapa yg diajak? GUE! Dan karna pekerjaan gue yg masih freelance makanya bnyk waktu luang gue dan gampang untuk diajak makan sama temen-temen gue.
Pernah salah satu kejadian diajak salah satu teman kuliah, dia ulang tahun dgn pesta sederhana di rumah. Saat itu gue datang terlambat karna memang ada kerjaan, pas gue nyampe rumah temen gue, gue langsung disambut hangat sama temen-temen gue dengan isak tangis bahagia layaknya orang yg menyambut pulang Haji. Dan temen gue langsung bilang, "Alhamdulillah, akhirnya lu dateng juga, makanan ga ada yg kebuang."
Sakit hati? Pasti laaah! Gue cuma senyum kecut! Dan gue memisahkan dari kelompok teman-teman gue, gue memojokan diri gue sendirian, dan didalam kesedihan gue, gue terus mengunyah makanan yg ada sampai habis. Ya bener jg sih, makanan jd ga ada yg kebuang, tp guenya yg makin gemuk. huft
Contoh lain lagi ketika gue diajak ke Puncak buat refreshing otak sejenak. Saat itu gue bertiga sama temen gue memutuskan utk makan di salah satu kedai sate yg lumayan terkenal di kawasan Puncak, karena gue ga dapet royalti dari tempat makannya itu makanya gue singkat aja jadi Kedai Sate PSK. Duh kayaknya ada yg aneh.
Lanjut ke cerita, gue dan temen gue masing - masing sedang memesan, tp salah satu temen gue ragu untuk memesan nasi,
gue langsung nanya ke dia "Ga pake nasi?",
Dan doi cuma bilang "Yaudah gue pesen nasi juga deh satu, klo ga abis nanti lu yg makan yah."
Mendengar jawaban dari dia gue merasa senang, karna satu sisi dia emang susah makan nasi, sisi lain gue juga belom makan seharian.
Akhirnya pesanan pun datang. Satu persatu makanan yg dipesan datang ke meja kita. Tapi celakanya, ternyata porsi nasinya itu bukan dari piring, tapi dari bakul. Gue sih ga pikir panjang, karna gue mikirnya temen gue yg satu lagi pasti makan nasinya banyak. Tapi gue salah sangka, ternyata temen gue makan sate dgn nasinya sedikit, dan temen gue yg satu lagi sama sekali ga colek nasi. Dan pasti kalian tau bagaimana nasib nasi sebakul yg malang itu? Yak benar! Gue makan sampe habis!
Gue jg ga didukung di lingkungan rumah dalam hal makanan. Nyokap gue jago banget masak, beliau masak nasi aja enaknya khaan maaeeen. Sedangkan gue masak air aja biar ketauan mateng apa enggak gue cicipin dulu. Belom lagi tetangga yg suka saling sharing makanan. Di perparah nyokap yg suka stock cemilan di rumah. Padahal ya, porsi makan gue itu dikit loh. Porsinya cuma semangkok sekuteng, tapi dalemnya tuh mangkok bisa sampe 5 meter. *bodo amat*
Maka dari itu, gue memutuskan untuk diet. Gue udah menghindari makan malem. Dan sekarang sedang proses kok. gue makan cuma 3 sendok makan doang perpiring, cuman sayangnya piringnya bisa sampe 13kali,
Mungkin nanti gue lanjutkan lagi cerita gue. Tentang proses diet gue. Gue mau udahan dulu karna nyokap gue nyuruh makan malem.
Sabtu, 09 Mei 2015
Mahalnya Biaya Nikah.
Sebagai cowok panggilan (maksudnya kalo ada panggilan motret orang kawin), secara otomatis gue melihat langsung resepsi pernikahan tersebut, yaiyalaah, orang gue yg motoin -_-
Dari yang resepsi di rumahan sampe yg gedung, dari yg cuma resepsi sehari sampe ada yg pake "Daughter-in-law Download's" atau sering kita dengar dgn Unduh Mantu. Cuma satu hal yg terlintas oleh pikiran gue, "Berapa biaya resepsi tersebut?!"
"Biaya nikah mahal, apalagi pake dangdut!", kata-kata itulah yang menjadi becandaan temen-temen gue yg udah merasakan bagaimana jebolnya kantong mereka setelah melewati masa-masa resepsi. Mungkin target nikah gue masih lama, tapi lama kelamaan itu menjadi beban pikiran juga, apalagi kalo pake dangdut. Karena itulah gue sering nanya ke mempelai pria kalo gue lagi ada job wedding-an. Salah satunya bernama Hendra, umur sekitar 28an, Seorang pemuda asli Tanah Abang yg bekerja dibilangan Sudirman-Thamrin. Kalo yg kenal hubungi ke kantor polisi terdekat. Lah?!
Dengan range gaji 4jutaan, dia menabung setengah gajinya selama 2 tahun untuk biaya nikah. Sejak menabung itu, dia merubah pola makannya. Yang biasanya dia makan dengan "4 Sehat 5 Sempurna", dia ganti dengan "Makan Syukur, Ga Makan Gapapa". Dari yang makan pake daging sapi impor, dia ganti dengan makan 2 biji ikan teri, itupun makannya pake kaca pembesar biar ikan teri-nya bisa dilihat kaya ikan tuna. Kira-kira dalam 2 tahun ia menabung terkumpul kurang lebih 50jutaan.
Dengan lantang gue bertanya, "Itu cukup, bang?!" Dia pun menjawab dengan lantang juga, "Ya kaga lah!". Dia cuma meyakinkan gue kalo lu niat dan yakin, pasti Allah ngasih jalan. Yang gue kagumi adalah sosok mempelai wanitanya. Dengan setianya dia menemani sang mempelai pria menuju bahtera rumah tangga. Uhh, so sweet. Ada tisu ga? Ingus gue meler nih.
Contoh lain ada seorang pemuda berkisaran 25an yg namanya tidak gue sebutkan. Dia menggelar resepsi di sebuah gedung di bilangan Balai Kartini, eh emang itu nama tempatnya. Dengan MC artis papan atas (maklum orang kaya), di tambah dengan dekor gedung yg serba wah (maklum orang kaya), dan juga makanan pun yg serba kebarat-baratan (maklum orang kaya), perkiraan budget yg dikeluarkan sekitar EM-EMan. Gue sempet nanya sama orang prasmanan, untuk biaya prasmanan aja bisa mencapai 300juta-an, entah yang bikin mahal apa, entah ada irisan emasnya disetiap makanan, entah sopnya ada berliannya, entah wine-nya udah lama sebelum dunia ini ada, entah. Yang pasti menurut gue ini hal yg sangat mubazir, karena menurut gue ini terlalu mewah, mungkin juga karena guenya yg terlalu kere.
Gue inget kata mendiang Bob Sadino, "Bergayalah sesuai isi dompetmu". Sah-sah aja sih kalo mau bikin "wah" pesta perkawinan. Karena menurut sebagian orang pesta perkawinan itu cuma sekali, jadi dia buat yg unforgettable buat hidupnya. Tapi takutnya udah mewah-mewah nanti malah "pisah". Yah kalo itu tergantung orangnya dah. Yang gue khawatirkan cuma satu, udah sibuk mikirin biaya nikah tapi pasangannya belom ada. Hiks.
Dari yang resepsi di rumahan sampe yg gedung, dari yg cuma resepsi sehari sampe ada yg pake "Daughter-in-law Download's" atau sering kita dengar dgn Unduh Mantu. Cuma satu hal yg terlintas oleh pikiran gue, "Berapa biaya resepsi tersebut?!"
"Biaya nikah mahal, apalagi pake dangdut!", kata-kata itulah yang menjadi becandaan temen-temen gue yg udah merasakan bagaimana jebolnya kantong mereka setelah melewati masa-masa resepsi. Mungkin target nikah gue masih lama, tapi lama kelamaan itu menjadi beban pikiran juga, apalagi kalo pake dangdut. Karena itulah gue sering nanya ke mempelai pria kalo gue lagi ada job wedding-an. Salah satunya bernama Hendra, umur sekitar 28an, Seorang pemuda asli Tanah Abang yg bekerja dibilangan Sudirman-Thamrin. Kalo yg kenal hubungi ke kantor polisi terdekat. Lah?!
Dengan range gaji 4jutaan, dia menabung setengah gajinya selama 2 tahun untuk biaya nikah. Sejak menabung itu, dia merubah pola makannya. Yang biasanya dia makan dengan "4 Sehat 5 Sempurna", dia ganti dengan "Makan Syukur, Ga Makan Gapapa". Dari yang makan pake daging sapi impor, dia ganti dengan makan 2 biji ikan teri, itupun makannya pake kaca pembesar biar ikan teri-nya bisa dilihat kaya ikan tuna. Kira-kira dalam 2 tahun ia menabung terkumpul kurang lebih 50jutaan.
Dengan lantang gue bertanya, "Itu cukup, bang?!" Dia pun menjawab dengan lantang juga, "Ya kaga lah!". Dia cuma meyakinkan gue kalo lu niat dan yakin, pasti Allah ngasih jalan. Yang gue kagumi adalah sosok mempelai wanitanya. Dengan setianya dia menemani sang mempelai pria menuju bahtera rumah tangga. Uhh, so sweet. Ada tisu ga? Ingus gue meler nih.
Contoh lain ada seorang pemuda berkisaran 25an yg namanya tidak gue sebutkan. Dia menggelar resepsi di sebuah gedung di bilangan Balai Kartini, eh emang itu nama tempatnya. Dengan MC artis papan atas (maklum orang kaya), di tambah dengan dekor gedung yg serba wah (maklum orang kaya), dan juga makanan pun yg serba kebarat-baratan (maklum orang kaya), perkiraan budget yg dikeluarkan sekitar EM-EMan. Gue sempet nanya sama orang prasmanan, untuk biaya prasmanan aja bisa mencapai 300juta-an, entah yang bikin mahal apa, entah ada irisan emasnya disetiap makanan, entah sopnya ada berliannya, entah wine-nya udah lama sebelum dunia ini ada, entah. Yang pasti menurut gue ini hal yg sangat mubazir, karena menurut gue ini terlalu mewah, mungkin juga karena guenya yg terlalu kere.
Gue inget kata mendiang Bob Sadino, "Bergayalah sesuai isi dompetmu". Sah-sah aja sih kalo mau bikin "wah" pesta perkawinan. Karena menurut sebagian orang pesta perkawinan itu cuma sekali, jadi dia buat yg unforgettable buat hidupnya. Tapi takutnya udah mewah-mewah nanti malah "pisah". Yah kalo itu tergantung orangnya dah. Yang gue khawatirkan cuma satu, udah sibuk mikirin biaya nikah tapi pasangannya belom ada. Hiks.
Senin, 04 Mei 2015
The Introducing. (Part II)
Apa yang lu pikirkan ketika mendengar "Orang Betawi"?
Benyamin S.? Haji Bolot? Orang kaya? Tanah dimana-mana? Kontrakan bejibun? Tukang parkir supermarket? Si Doel n4x b3T4w1? Lah sejak kapan Si Doel jadi alay?!
Yaaahh bebas deh kalian menilai. Toh, perspektif orang-orang beda-beda.
Yak gue anak betawi asli. Ada keturunan arab sih sedikit dari nyokap, pastinya arab mana lu tanya aja nyokap gue langsung, kalo udah lu tanya ke nyokap gue tolong kasih tau gue. Soalnya gue jg belom tanya. Bokap gue anak bontot dari 13 bersaudara. Nyokap gue anak kedua dari 9 bersaudara. Banyak banget ya? namanya juga orang dulu, banyak anak banyak rejeki.
Nah lu bayangin dah tuh bijimane kalo lagi lebaran. Bukan hanya itu, di budaya betawi itu sangat kental yang namanya "Orang muda nyamperin nyang tua". Eh ga betawi doang kali yak?
Jadi pas lebaran dikarenakan bokap gue anak paling bontot makanya keluarga gue harus muter-muter ke tempat yang lebih tua, tapi dikarenakan nyokap gue termasuk anak tertua dikeluarganya, keluarga kita juga harus menerima tamu di rumah. Ribet bener kan? Makanya orang betawi itu kalau bener-bener lebaran ke tempat sanak saudara bisa sebulan lebih silaturahminya.
Gue ini anak pertama dari 3 bersaudara. Dan selisihnya 6 tahun semua. Gue sama adik gue yang kedua selisih 6 tahun, adik gue yang kedua ke adik gue yang bontot selisih 6 tahun juga.
Adik gue yang pertama biasa gue panggil "Aldo". Padahal namanya Septiar Rasyid Yusdarazha, ga ada 'Aldo'-nya kan? Auuu daahh, bokap gue dapet nama panggilan itu darimana, gue juga ikut-ikutan bokap gue doang.
Dia sekarang lagi mengejar cita-citanya masuk PTN, dimanapun. Sedangkan bokap gue lagi mengejar rezeki untuk merealisasikan cita-cita adik gue tersebut. Gue akui adik gue ini mempunyai pemikiran yg lebih mateng dari pada gue. Sejak dia SMP, dia udah punya planning sendiri mau kemana dia dewasa nanti. Enggak kaya gue, ampe gue kuliah pun aja gue gatau mau masuk apa, dan akhirnya gue ke cemplung masuk dunia broadcasting dgn harapan ga nemu matematik lagi. Ternyata salah.
Adik gue yang bontot itu sekarang baru mau lulus SD, tapi body-nya udah kayak ibu-ibu pejabat. Kalo dia make baju biasa, hijab dan kacamatanya itu bener-bener kayak orang udah kayak nikah. Malah dulu pernah ada kejadian waktu lebaran adik gue yang pertama dikasih ampau, tapi adek gue yang bontot ga dikasih, dikira ibu-ibu. Yah mungkin faktor genetik kali yah, emang keluarga besar gue itu gemuk-gemuk, jadi kita mah ga terlalu kaget. Tapi orang lain yang kaget.
Adik gue ini suka banget sama Korea. Dari lagu ampe drama tipi ditonton semua. Kesel deh gue! Kok ikut-ikutan gue sih! (Laah..)
Gue tinggal di suatu keluarga yang sangat sangat sangat sangat sangat sangat sederhana. Tapi karna kesederhanaan itulah gue bersyukur ke Tuhan, banyak banget pelajaran yang gue dapet dari keluarga ini.
Langganan:
Komentar (Atom)